A. PENDAHULUAN
Di era globalisasi perkembangan tentang ilmu teknologi informasi semakin berkembang. Begitu pula dengan Jurnalisme yaitu sebagai pendorong perubahan. Perubahan memang merupakan hukum utama jurnalisme. Karena dalam perjalanan sejarahmya, jurnalisme mendapat dampak dari perubahan yang terjadi di masyarakat dan dalam teknologi.
Menurut Theodore Jay Gordon dari Future Group di Noank, Connecticut, bahwa ada empat daya yang mengubah dunia jurnalistik, yaitu (1) munculnya abad komputer dan dominasi elektronika; (2) globalisasi dari komunikasi, dimana geografi menjadi kurang penting; (3) perubahan demografi, terutama pertambahan jumlah orang-orang yang berumur diatas 40 tahun; dan (4) perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat.
Tom Rosensteil berkata, bahwa kehadiran teknologi baru harus dianggap bukan sebagai ancaman untuk surat kabar melainkan merupakan satu kesempatan. Kemajuan teknologi mengkibatkan berbagai macam informasi deras yang mengalir masuk. Garis-garis antara berita, hiburan, iklan, propaganda, dan lain-lainnya, menjadi kabur.
Perubahan-perubahan diatas merupakan peran baru dari media. Selain penyalur informasi juga merupakan fasilisator, penyaring, dan pemberi makna sebuah informasi. Dalam keputusannya jurnalisme adalah untuk menarik masyarakat peminat, terkadang pers juga bergerak ke arah sensasi, hiburan, dan opini.
Media juga harus menyediakan berita yang akurat dan cepat, mendalam, relevan, dan interprestasi yang bermutu. Dalam dunia dengan banyak pilihan dan informasi tidak ada batasnya, pada akhirnya nilai tinggi yang diberikan kepada sumber-sumber yang memiliki informasi yang akurat dan efisien.
Berdasarkan uraian tersebut banyak hal yang harus kita ketahui dalam dunia pers beserta elemen-elemen yang terkandung di dalamnya.
A. TINJAUAN PUSTAKA
Perubahan-perubahan yang melanda jurnalisme itu membuat para pakar media berpendapat bahwa kini yang penting bukan lagi merumuskan apa dan siapa wartawan itu, tetapi apa pekerjaan mereka yang sesungguhnya. Secara bersama, Bill Kovach dan Tom Rosensteil dengan dukungan dan bantuan dari para ahli media yang tergabung dalam committee of Concernet Journalist melakukan riset yang ekstensif terhadap apa yang sesungguhnya harus di kerjakan oleh para wartawan. Hasil riset tersebut kemudian ditulis dalam buku The Element of Journalism.
Buku The Element of Journalism mengatakan bahwa jurnalistik merupakan panggilan masyarakat yang tinggi. Semua yang terlibat mempunyai kewajiban yang lebih besar kepada audiences daripada kepada tuntutan pasar. Mereka seolah-olah ditarik oleh suatu kekuatan dari luar diri mereka untuk menjadi khusus serta sekaligus mengemban kewajiban yang khusus pula. Menanggapi hal tersebut David Talbot, pemimpin redaksi Salon.com mengatakan it is not just a job, it’s a way of life and you are always on the look out for a new idea—jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah jalan hidup di mana orang di tuntut untuk selalu mencari gagasan baru.
Disebutkan dalam buku tersebut bahwa tujuan utama dari jurnalisme adalah menyediakan informasi yang akurat dan terpercaya kepada kepada warga masyarakat agar dengan informasi tersebut mereka dapat mereka dapat berperan membangun sebuah masyarakat yang bebas. Hal ini mencakup tugas yang banyak sekali, misalnya, membantu memperbaiki kehidupan masyarakat, menciptakan bahasa dan pengetahuan umum, mengindentifikasikan apa yang di cita-citakan masyarakat, merumuskan siapa yang pantas di sebut pahlawan atau penjahat, dan mendorong orang-orang untuk lebih dari sekadar berpuas diri. Tujuan ini juga mencakup keperluan-keperluan lain, seperti hiburan, menjadi penjaga watch dog dan menyuarakan kepentingan dari mereka yang tidak memiliki suara voice to the voiceless.
Dari penelitian terhadap tugas dan pekerjaan para wartawan tersebut, Committee of concerned Journalist akhirnya menyimpulkan bahwa sekurang-kurangnya ada sembilan inti prinsip jurnalisme yang harus di kembangkan.
SEMBILAN PRINSIP JURNALISME.
1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran
Demokrasi tergantung pada warga yang mendapatkan fakta yang akurat dan terpercaya yang diletakkan dalam sebuah konteks yang tepat dan memiliki makna. Jurnalisme bukan mengejar kebenaran dalam pengertian yang absolut atau filosofis, tetapi bisa dan harus mengejar kebenaran dalam pengertian yang praktis. Kebenaran jurnalistik adalah suatu proses yang di mulai dengan disiplin profesional dalam pengumpulan dan verifikasi fakta. Wartawan kemudian berusaha menyampaikan makna tersebut dalam sebuah laporan yang adil dan terpercaya, berlaku untuk saat ini, dan dapat menjadi bahan untuk investigasi lanjutan. Wartawan harus sedapat mungkin bersikap transparan mengenai sumber-sumber dan metode yang di pakai, sehingga audiences dapat menilai sendiri informasi yang disajikan. Walaupun kita hidup dalam dunia yang terus berkenbang, akurasi tetap menjadi dasar dimana segala sesuatu di bangun di atasnya konteks, interprestasi, komentar, kritik, analisis, dan debat. Kebenaran, pada saatnya akan muncul dari forum tersebut.
2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga masyarakat
Wartawan harus menyediakan berita tanpa rasa takut atau memihak. Mereka harus memelihara kesetiaan kepada warga masyarakat dan kepentingan publik yang lebih luas di atas yang lainnya. Prioritas komitmen kepada warga masyarakat ini adalah basis dari kepercayaan sebuah organisasi berita. Media harus dapat mengatakan dan menjamin kepada audiences-nya bahwa liputan itu tidak di arahkan demi kawan dan pemasang iklan. Kepercayaan inilah yang membangun audiences yang luas dan setia.
3. Inti jurnalisme adalah disiplin untuk melakukan verifikasi
Wartawan mengandalkan diri pada disiplin profesional untuk menverifikasikan informasi. Ketika konsep objektivitas semula disusun, tidak berarti bahwa wartawan itu terbebas dari prasangka. Yang obyektif adalah metodenya, tidak wartawannya. Mencari berbagai saksi, menyingkap mungkin sumber, atau bertanya berbagai pihak untuk komentar, semua mengisyaratkan adanya standar yang profesional. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme dengan bentuk-bentuk komunikasi yang lain, seperti propaganda, fiksi atau hiburan.
4. Para wartawan harus memiliki kebebasan dari sumber yang mereka liput
Kebebasan adalah syarat dasar dari jurnalisme. Ia menjadi sebuah landasan dari kepercayaan. Kebebasan jiwa dan pemikiran bukan hanya netralitas adalah prinsip yang harus di jaga oleh wartawan. Walaupun editorialis dan komentator tidak netral, namun sumber dari kredibilitas mereka adalah tetap, yaitu akurasi, kejujuran intelektual dan kemampuan untuk menyampaikan informasi, bukan kesetiaan pada kelompok atau hasil tertentu.
5. Wartawan harus mengemban tugas sebagai pemantau yang bebas terhadap kekuasaan
Prinsip ini menekankan pentingnya peran penjaga. Sebagai wartawan, kita wajib melindungi kebebasan peran jaga ini dengan tidak merendahkannya, misalnya dengan menggunakan secara sembarangan atau mengeksploitasinya untuk keuntungan komersial.
6. Jurnalisme harus menyediakan forum untuk kritik dan komentar publik
Diskusi publik ini bisa melayani masyarakat dengan baik jika mereka mendapatkan informasi berdasrkan fakta, dan bukan atas dasar prasangka atau dugaan-dugaan. Selain itu, berbagai pandangan dan kepentingan dalam masyarakat harus terwakili dengan baik. Akurasi dan kebenaran mengharuskan bahwa sebagai penyusun diskusi publik, kita tidak boleh mengabaikan titik-titik persamaan dasar dimana penanggulangan masalah di mungkinkan.
7. Jurnalisme harus berusaha membuat yang pentimg menjadi menarik dan relevan
Jurnalisme adalah bercerita dengan suatu tujuan—story telling with purpose. Karena itu, jurnalisme harus berbuat lebih dari sekadar mengumpulkan audiences atau membuat daftar penting. Demi mempertahankan hidupnya sendiri, jurnalisme harus mengimbangi antara apa yang menurut pengetahuan pembaca mereka inginkan, dengan apa yang mereka tidak bisa harapkan tetapi sesungguhnya mereka butuhkan. Pendeknya, jurnalisme harus berusaha membuat yang penting menjadi menarik dan relevan. Kualitasnya di ukur dari sejauh mana suatu karya melibatkan audiences dan mencerahkannya.
8. Wartawan harus menjaga agar berita itu proposional dan komprehensif
Prinsip disini adalah “ jurnalisme adalah suatu bentuk dari kartografi”. Ia menciptakan sebuah peta bagi warga masyarakat guna menentukan arah kehidupan. Menjaga berita agar tetap proposional dan tidak menghilangkan hal-hal yang penting adalah juga hal dasar dari kebenaran. Menngelembungkan peristiwa demi sensasi, mengabaikan sisi-sisi yang lain, stereotip atau bersikap negatif secara tidak imbang akan membuat peta menjadi kurang dapat di andalkan.
9. Wartawan itu memiliki kewajiban utama terhadap suara hatinya
Setiap wartawan harus memiliki rasa etik dan tanggung jawab—sebuah moral kompas (moral compass). Kita harus mau, bila rasa keadilan dan akurasi mewajibkan, untuk menyuarakan perbedaan dengan rekan-rekan kita, apakah itu di ruang atau di kantor eksekutif.
Selain itu, ada lima pegangan yaitu prinsip-prinsip intelektual dalam reportase yaitu:
1. Jangan menambahkan sesuatu yang tidak ada
2. Jangan menipu pembaca
3. Transparan sebisa mungkin tentang metode dan motif anda
4. Percaya pada keaslian reportase metode dan motif
5. Rendah hati.
B. KESIMPULAN
Buku The Elements of Journalism memberikan inspirasi bagi awak media massa untuk memberikan berita yang menarik dan relevan bagi khalayak. Dengan adanya petunjuk sembilan prinsip jurnalisme oleh Bill Kovach dan Tom Rosensteil dalam buku The Elements of Journalism media bisa memperbaiki kehidupan masyarakat, menciptakan bahasa dan pengetahuan umum, mengindentifikasikan apa yang di cita-citakan masyarakat, merumuskan siapa yang pantas di sebut pahlawana atau penjahat, dan mendorong orang-orang untuk lebih dari sekadar berpuas diri.
The Elements of Journalism juga menaruh pengetahuan pada awak media untuk bertanggung jawab dengan apa yang di embannya sebagai wartawan.
C. DAFTAR PUSTAKA
Ishwara, Luwi. 2005. Catatan-catatan Jurnalisme Dasar. Jakarta : Kompas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


thank ya, uda membntu aku dlm pembuatan makalh
BalasHapus