Minggu, 20 Desember 2009

LAHIRNYA GITAR DARI DESA KEMBANGAN

Sukoharjo,11/12/09
Di tengah sulitnya lapangan pekerjaan di negara kita seharusnya dapat menggugah masyarakatnya untuk memiliki suatu hal dimana mereka harus bisa mengandalkan diri dan berpatisipasi membentuk lapangan pekerjaan sendiri salah satunya dengan kreatifitas.
Kekreatifitasan merupakan kemampuan yang dapat menghasilkan suatu karya dimana kita bisa menciptakan yang orang lain belum tentu bisa. Kemudian sebuah kekreatifitasan itu dapat menjadikan gudang uang untuk yang memilikinya dan juga dapat membantu menciptakan lapangan kerja. Sepertinya hal itu dapat kita utarakan untuk desa yang terletak di sebelah barat bengawan solo ini. Desa yang terletak di kecamatan Baki, kabupaten Sukoharjo ini bernama Desa Kembangan. Begitu masuk ke desa ini kita akan melewati gapura dengan plakat DESA KEMBANGAN, INDUSTRI GITAR.
Matahari kian menanjak setara menemani aku mencari desa industri ini. Panas seakan tidak dapat menunda jalannya aktifitasku. Kita tidak akan menyangka kalau ternyata desa yang jauh dari pusat kota ini merupakan sentra gitar. Letaknya hampir bisa dikatakan di tengah persawahan. Dalam perjalanan ke desa ini aku disapa berbagai pemandangan yang indah dimana kiri dan kanan jalan terdapat sawah yang luas. Petani-petani banyak yang sedang menandur padi. Hal itu vitamin baru yang membuat aku menjadi lebih semangat. Dan begitu sampai di desa ini aku pun berjalan menyusuri lorong-lorong yang terdapat di desa ini. Banyak hal yang membuat mataku terpana, gitar-gitar terpampang di depan rumah dengan jumlah yang banyak dan pemuda-pemudi yang ramai berkumpul di rumah-.rumah. Cukup melelahkan sebenarnya karena aku harus keliling-keliling mencari objek yang cocok.
“ngiiiiiiiinnnnnnngg,” bunyi alat pengetam kayu memekakkan telinga begitu ketika aku melewati rumah salah seorang warga. Kemudian “ srekkk,srekk,srekk” ada juga yang ngamplas kayu. Hal ini membuat aku menjadi penasaran dan tersenyum sendiri melihatnya. Ternyata bukan hanya pemuda saja, ada juga bapak-bapak yang sedang duduk santai namun dengan memegang kayu dan gergaji. Setidaknya hampir semua warga di desa ini memiliki pekerjaan yang mayoritas sebagai pengrajin. Data terakhir yang tercatat di kantor kelurahan setempat saat ini terdapat 137 orang perajin yang menekuni industri gitar. (blog Biduk Rokmadi)
Desa ini penduduknya mayoritas tidak melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi. Dari sekian banyak warganya hanya satu orang yang mencapai perguruan tinggi. Mengapa bisa demikian ? kemungkinan besar adalah peluang kerja yang sudah di depan mereka.

PENGRAJIN GITAR, BELUM TENTU BISA MAIN GITAR.

Sidal Hadi Wiyono (64) orang pertama yang memperkenalkan keterampilan membuat gitar di kampung tersebut pada tahun 1961. Awalnya, saat masih bersekolah di tingkat SMP, Hadi muda bekerja di pabrik gitar di kawasan Timuran, Solo selama empat tahun. Karena modal milik juragannya makin hari semakin menyusut, Hadi memutuskan untuk pulang kampung dan memulai usahanya sendiri. (blog Biduk Rokmadi)
Tak terasa sudah hampir setengah jam aku memutari desa ini. Aku pun berhenti di rumah berwarna hijau tua yang letaknya di paling pojok desa. Ternyata desa ini merupakan desa industri gitar yang besar di sukoharjo. Akupun menyegerakan diri untuk mengerti lebih dalam tentang keahlian mereka sehingga hampir semuanya bekerja di pekerjaan yang sama.
Entah mengapa aku tertarik pada rumah yang paling pojok ini, apa mungkin karna rumah terakhir. Entah juga karna warna kesukaanku hijau jadi aku harus menghentikan langkahku di depan rumah yang ku bilang cukup besar karna halamannya yang luas. Entah juga karna gitar yang banyak di jemur di depan rumah.
Begitu aku datang, mata mereka tertuju padaku. Aku segera menyalami mereka dan mencari pemilik rumah hijau tersebut dan aku pun di persilahkan masuk. Ternyata pemilik rumah yang terletak di RT.02/RW.11 Dukuh Wetan, Mandasan, Baki, Sukoharjo ini ramah sekali. Lelaki yang berusia 36 tahun ini bernama Yatno. Namun, karena saking banyaknya yang bernama Yatno di Dukuh Wetan akhirnya dia memberi julukan tersendiri agar dia lebih di kenal orang dengan nama Suyut. Mas Suyut begitu dia di panggil. Dia membuat gitar dari usia 17 tahun. Mas Suyut belajar membuat gitar dari pengalamannya bekerja di tempat pembuatan gitar di Jakarta. Kemudian dia pulang kekampung dan membuat usaha sendiri. Usaha yang di buatnya dari tahun 1992 ini sudah menciptakan ribuan gitar.
Disela-sela pembicaraan tentang gitar aku pun penasaran.” Mas Suyut kan pandai merakit gitar berarti ahli juga donk bermain gitar,” tanyaku. Kemudian dengan tertawa dia menjawab “ Jujur saja saya itu tidak bisa main gitar,”. Aku pun tidak percaya bagaimana bisa seorang pengrajin gitar yang sudah berpengalaman tidak bisa bermain gitar. Kemudian aku bertanya kembali “ Trus bagaimana caranya agar tahu gitar itu bagus bunyinya?”. “ Yang penting tidak fals saja itu sudah bagus,” jawabnya sambil tertawa lagi. Dia pun bercerita tentang usahanya itu selama dia membikin usaha ini belum pernah ada gitar yang dikembalikan. Prinsip dia cukup jujur kepada konsumen kalau bagus katakan bagus dan kalau jelek katakan jelek. Ternyata suatu kejujuran mempengaruhi sebuah usaha sehingga konsumen pun menjadi percaya dengan kita.

PRODUKSI YANG SANGAT FANTASTIK.

Begitu banyak gitar yang di jemur dan terpampang di teras-teras rumah. “Sebenarnya untuk memproduksi satu buah gitar butuh waktu berapa lama?” tanyaku. Mas Suyut pun menjawab “ Aduh, saya tidak dapat memperhitungkan itu kalau satu buah tapi biasanya seminggu saya produksi 60 buah gitar,”. Hal yang sangat fantastik, bukan? berarti sehari beliau bisa membuat 10 buah gitar. Kemudian aku melihat banyak pemuda-pemuda, ”tapi kan karyawannya banyak mas,”kataku. Mas Suyut pun menjawab ” Itu cuma anak-anak yang mau servis gitarnya, karyawan saya cuma 2 orang kok,”.
Ternyata selain membuat gitar para pengrajin juga menerima servis gitar. Biayanya pun beragam untuk gitar hasil produksi dari pengrajin itu sendiri mereka hanya membayar sekitar Rp. 25.000,- saja. Tetapi jika gitar itu bukan buatan dari pengrajin tersebut maka mereka harus membayar sekitar Rp.75.000,- hingga Rp. 100.000,-.
Untuk membayar karyawannya, pengrajin harus mengeluarkan kocek sebesar Rp. 20.000,-/hari. Sedangkan biaya produksinya dikatakan lebih dari setengah penghasilan pengrajin selama sebulan. Omset perbulan pengrajin dapat mengumpulkan sebesar kurang lebih Rp. 20.000.000,- dalam jumlah kotor.
Untuk memproduksi gitar bahan yang dibutuhkan adalah kayu. Para pengrajin biasanya menggunakan kayu waru dan mahoni. Untuk gitar yang bagus mereka menggunakan kayu mahoni untuk membuat gitar. Pengrajin biasanya mendapatkan kayu dari Bali dan Kalimantan. Selain itu untuk bahan-bahan seperti senar, spul gitar, spul electrik para pengrajin biasanya memboking atau dengan membeli di toko alat musik. Kemudian untuk alat-alatnya yang dibutuhkan adalah Compressor, Gergaji, Pres, Cetakan (Mal) atau triplek, dan cat mobil.
Sedangkan untuk tahap pembuatannya adalah di mulai dari memotong kayunya, kemudian di amplas agar kayu tidak kasar lagi, didempul dimana pori-pori kayu ditutup, kemudian di cetak melaului sanding, kemudian melamit yaitu di cat dengan cat dasar, lalu di cat lagi biasanya menggunakan cat mobil, terakhir di pernis atau dibuat mengkilat.
PROSES PEMBUATAN GITAR.

Membentuk gitar Mengamplas gitar
(/kulinerkita.multiply.com)



Proses pengecatan (kulinerkita.multiply.com) Siap di distribusikan

PERSAINGAN DI DEPAN MATA.
Bagaimana tidak, hampir semua penduduknya merupakan pengrajin gitar dan secara otomatis persaingan pun di depan mata. Tetapi hal ini disikapi warga dengan biasa saja ” Yang penting berani bersaing dan berani menunjukkan kualitas produksi masing-masing,” begitu kata salah seorang karyawan di tempat kerja Mas Suyut. Dan jika ada konsumen yang datang dan kurang puas dengan gitar mereka, mereka pun siap mengantarkan konsumen ketempat saingan mereka dengan senang hati. Jadi, walaupun satu sama lain adalah saingan namun jiwa kebersamaannya masih tetap terjaga dengan baik.

GITAR DESA KEMBANGAN, SIAP DI TERIMA PASAR NASIONAL MAUPUN INTERNASIONAL.

Ditengah perkembangan jaman yang semakin maju kita harus pintar mengambil alih sebuah usaha apalagi di jaman sekarang. Musik tengah berada diurutan atas setidaknya seniman-seniman harus memiliki ide-ide agar dapat masuk dalam pasar musik. Termasuk hal nya apa yang dilakukan pengrajin gitar harus memiliki inovasi-inovasi teranyar.
Tetapi inovasi itu juga tidak lahir dari pengrajin saja namun juga dari permintaan pasar. Biasanya pasar membawa gambar atau model sendiri. Sebagian besar pengrajin biasanya juga menerima pesanan dari seniman-seniman campursari dan keroncong. Yang mereka buat contohnya Celo, Biola, Cak, dan Cuk.
Kalau soal merk pengrajin di desa Kembangan ini tidak berani memberi merk-merk yang ternama. Mereka hanya memberi merk sesuai produksi mereka seperti contoh gitar produksi Mas Suyut yang bermerk “ROCK”. Alasan mereka tidak berani menaruh merk-merk terkenal adalah karena hal tersebut sangat berisiko fatal sebab termasuk dalam pelanggaran hak cipta yang hukumannya tidak main-main.
Pendistribusiannya biasanya hanya di seputaran Indonesia saja seperti Yogyakarta, Surakarta, Bali, Surabaya, Semarang, Jakarta, dan kota-kota lainnya. Beberapa pengrajin belum bisa mendistribusikan ke luar negeri karena faktor modal yang belum mencukupi. Biasanya mereka mengekspor ke negara tetangga misalnya Malaysia dan Singapura. Dalam pendistribusiannya desa ini bersifat individu saja. Pengrajin biasanya mengakali distribusi agar mendapat untung lebih banyak dengan cara jika toko atau pemesan membutuhkan barang sekitar 100 buah gitar, mereka melebihkan dengan 50 gitar lagi. Hal itu dilakukan untuk melancarkan usaha mereka. Toko hanya membayar yang 100 buah mereka pesan namun yang 50 sebagai cadangan itu dianggap belum dibayar. Istilah pengrajin menaruh barang di toko tersebut. Pemberian harga pun sudah berbeda antara yang 100 buah dan 50 buah dari pengrajin tersebut.
Dulunya pengrajin menggunakan koperasi daerah untuk pendistribusian. Namun, karena banyak gitar yang di pulangkan ke pengrajin akhirnya mereka berinisiatif untuk melakukan pemasaran secara individu. Dan akibat dari hal tersebut koperasi di desa Kembangan di bubarkan.


KRIDA REMAJA
KRIDAREMAJA begitu karang taruna desa Kembangan di namakan. Mereka pemuda-pemudi yang kreatif. Secara tidak langsung mereka mulai melanjutkan usaha-usaha yang telah ada. Seperti bekerja diperakitan gitar saja mereka sudah dapat menabung ilmu agar bisa membuat gitar dan jika mampu mereka bisa memproduksikan gitar itu sendiri.

GITAR DI PASAR LEGI
Apa yang terjadi jika ternyata gitar yang di buat tidak laku di pasaran? Begitu dalam benakku. Gitar-gitar akan di kembalikan ke pengrajin kemudian di servis kembali baru kemudian dapat di pasarkan kembali. Namun, ada juga toko yang tidak mengembalikan tetapi menaruhnya di pasar-pasar seperti contohnya pasar legi. Jadi sebenarnya gitar yang ada di pasar legi bisa di katakan adalah tangan kedua dari pendistribusian gitar tersebut. Harganya pun menjadi lebih miring dari harga aslinya.
Untuk sementara aku menghentikan perbincangan karena bapak-bapak di industri pengrajin gitar itu. Karena hari ini hari Jum’at mereka harus berangkat ke masjid menunaikan ibadah sholat jum’at.
Selama itu aku melihat hasil-hasil karya mereka. Kemudian disebuah ruangan ada seorang bapak yang sedang memasang senar di gitar-gitar yang siap di distribusikan. ”ini udah siap untuk dikirim ya mas?” tanyaku. ” iya, ini mau di kirim ke semarang,” jawab bapak itu kemudian melanjutkan pekerjaannya memberi bungkus pada gitar-gitar yang sudah siap.
Kreatifitas warga-warga di desa Kembangan ini dapat memberikan inspirasi untuk insan bangsa agar bisa menggunakan kemampuan atau potensi diri sebagai hal yang dapat di manfaatkan juga dapat membentuk jati diri yang mandiri dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

TERM OF REFERENCE

JUDUL :
DESA PENGRAJIN GITAR ( DESA Kembangan, BAKI, SUKOHARJO )

TUJUAN :
Semakin berkembangnya dunia seni khususnya musik di masa sekarang merupakan adanya campur tangan pengrajin alat musik dengan sesuai perkembangan jaman.
Jadi liputan ini bertujuan :
• Untuk mencari tahu seluk beluk pengrajin gitar di desa Kembangan, Baki, Sukoharjo.
• Untuk menciptakan inspirasi bagi insan kehidupan untuk berani kreatif.
• Mengungkap sukses sebuah kinerja industri rumahan.

HARAPAN :
Memberikan inspirasi kepada khalayak bahwa sebaiknya kita harus kreatif. Karena sebuah kekreatifan/ keahlian itu berguna untuk insan kehidupan dan berguna untuk meraih sebuah kesuksesan.

NARASUMBER :
1. Pengrajin gitar
2. Kepala Desa Kembangan
3. Agen pemasaran ( seperti KUD, dan agen-agen lainnya )
4. Peguyuban pengrajin gitar
5. Karang Taruna Desa Kembangan

METODE :
• OBSERVASI
• WAWANCARA

Burung saling memanggil di Pasar Depok Solo

Pasar Depok (solo)
Kendati pembelinya belum ada burung-burung di pasar ini tidak berhenti berkicau. Inilah suasana lain yang kita temukan di Pasar Depok yang terletak di utara Stadion Manahan, tepatnya di dekat taman budaya Balaikambang.
Aktifitas jual beli yang tidak begitu ramai pada hari ini (07/10) tidak menyurutkan para pedagang untuk menawarkan burung dan hewan kepada para pembeli. Maklum saja, pasar yang berdiri sejak 1982 ini hanya ramai pada waktu-waktu tertentu seperti hari Minggu. Pasar ini tidak hanya menawarkan berbagai macam burung melainkan juga perlengkapannya seperti sangkar dan makanannya.
Selain itu di pasar ini tidak hanya di penuhi dengan pedagang yang menjual beraneka macam burung tetapi ada juga pedagang yang menjual hewan lainnya seperti Hamster, Kelinci, Anjing, dan lain sebagainya. “Biar lengkap saja trus menambah penghasilan selain dari jual burung,” jawab Parno begitu ditanya mengapa berjualan hewan lainnya. ”Relatiflah, kalau untuk unggasnya sekarang itu keuntungannya 1,5 juta dapatlah dan kalau untuk hewannya paling keuntungannya Rp. 500.000,-/bulan karena kan sepi tapi kalau seperti hari libur atau saat lebaran itu jauh meningkat kadang-kadang sehari bisa dapat Rp. 500.000 lebih karna ramai,”tambah pria berperawakan gemuk ini menjelaskan keuntungannya.
Umumnya pasar ini memahami kebutuhan para pembeli dengan tidak memberikan harga yang tinggi. Pedagang memberi kesempatan kepada pembeli untuk menawar hingga mendapat kesepakatan. “Ini sepasang Rp. 70.000,” begitu kata Iwan yang telah membeli sepasang merpati keplean. Dan tidak heran pula mengapa pasar ini begitu menarik perhatian masyarakat yaitu selain tempatnya strategis ternyata lengkap unggasnya.

SEMBILAN ELEMEN JURNALISTIK DALAM BUKU “THE ELEMEN OF JOURNALISM”

A. PENDAHULUAN

Di era globalisasi perkembangan tentang ilmu teknologi informasi semakin berkembang. Begitu pula dengan Jurnalisme yaitu sebagai pendorong perubahan. Perubahan memang merupakan hukum utama jurnalisme. Karena dalam perjalanan sejarahmya, jurnalisme mendapat dampak dari perubahan yang terjadi di masyarakat dan dalam teknologi.
Menurut Theodore Jay Gordon dari Future Group di Noank, Connecticut, bahwa ada empat daya yang mengubah dunia jurnalistik, yaitu (1) munculnya abad komputer dan dominasi elektronika; (2) globalisasi dari komunikasi, dimana geografi menjadi kurang penting; (3) perubahan demografi, terutama pertambahan jumlah orang-orang yang berumur diatas 40 tahun; dan (4) perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat.
Tom Rosensteil berkata, bahwa kehadiran teknologi baru harus dianggap bukan sebagai ancaman untuk surat kabar melainkan merupakan satu kesempatan. Kemajuan teknologi mengkibatkan berbagai macam informasi deras yang mengalir masuk. Garis-garis antara berita, hiburan, iklan, propaganda, dan lain-lainnya, menjadi kabur.
Perubahan-perubahan diatas merupakan peran baru dari media. Selain penyalur informasi juga merupakan fasilisator, penyaring, dan pemberi makna sebuah informasi. Dalam keputusannya jurnalisme adalah untuk menarik masyarakat peminat, terkadang pers juga bergerak ke arah sensasi, hiburan, dan opini.
Media juga harus menyediakan berita yang akurat dan cepat, mendalam, relevan, dan interprestasi yang bermutu. Dalam dunia dengan banyak pilihan dan informasi tidak ada batasnya, pada akhirnya nilai tinggi yang diberikan kepada sumber-sumber yang memiliki informasi yang akurat dan efisien.
Berdasarkan uraian tersebut banyak hal yang harus kita ketahui dalam dunia pers beserta elemen-elemen yang terkandung di dalamnya.








A. TINJAUAN PUSTAKA

Perubahan-perubahan yang melanda jurnalisme itu membuat para pakar media berpendapat bahwa kini yang penting bukan lagi merumuskan apa dan siapa wartawan itu, tetapi apa pekerjaan mereka yang sesungguhnya. Secara bersama, Bill Kovach dan Tom Rosensteil dengan dukungan dan bantuan dari para ahli media yang tergabung dalam committee of Concernet Journalist melakukan riset yang ekstensif terhadap apa yang sesungguhnya harus di kerjakan oleh para wartawan. Hasil riset tersebut kemudian ditulis dalam buku The Element of Journalism.
Buku The Element of Journalism mengatakan bahwa jurnalistik merupakan panggilan masyarakat yang tinggi. Semua yang terlibat mempunyai kewajiban yang lebih besar kepada audiences daripada kepada tuntutan pasar. Mereka seolah-olah ditarik oleh suatu kekuatan dari luar diri mereka untuk menjadi khusus serta sekaligus mengemban kewajiban yang khusus pula. Menanggapi hal tersebut David Talbot, pemimpin redaksi Salon.com mengatakan it is not just a job, it’s a way of life and you are always on the look out for a new idea—jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah jalan hidup di mana orang di tuntut untuk selalu mencari gagasan baru.
Disebutkan dalam buku tersebut bahwa tujuan utama dari jurnalisme adalah menyediakan informasi yang akurat dan terpercaya kepada kepada warga masyarakat agar dengan informasi tersebut mereka dapat mereka dapat berperan membangun sebuah masyarakat yang bebas. Hal ini mencakup tugas yang banyak sekali, misalnya, membantu memperbaiki kehidupan masyarakat, menciptakan bahasa dan pengetahuan umum, mengindentifikasikan apa yang di cita-citakan masyarakat, merumuskan siapa yang pantas di sebut pahlawan atau penjahat, dan mendorong orang-orang untuk lebih dari sekadar berpuas diri. Tujuan ini juga mencakup keperluan-keperluan lain, seperti hiburan, menjadi penjaga watch dog dan menyuarakan kepentingan dari mereka yang tidak memiliki suara voice to the voiceless.
Dari penelitian terhadap tugas dan pekerjaan para wartawan tersebut, Committee of concerned Journalist akhirnya menyimpulkan bahwa sekurang-kurangnya ada sembilan inti prinsip jurnalisme yang harus di kembangkan.




SEMBILAN PRINSIP JURNALISME.

1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran
Demokrasi tergantung pada warga yang mendapatkan fakta yang akurat dan terpercaya yang diletakkan dalam sebuah konteks yang tepat dan memiliki makna. Jurnalisme bukan mengejar kebenaran dalam pengertian yang absolut atau filosofis, tetapi bisa dan harus mengejar kebenaran dalam pengertian yang praktis. Kebenaran jurnalistik adalah suatu proses yang di mulai dengan disiplin profesional dalam pengumpulan dan verifikasi fakta. Wartawan kemudian berusaha menyampaikan makna tersebut dalam sebuah laporan yang adil dan terpercaya, berlaku untuk saat ini, dan dapat menjadi bahan untuk investigasi lanjutan. Wartawan harus sedapat mungkin bersikap transparan mengenai sumber-sumber dan metode yang di pakai, sehingga audiences dapat menilai sendiri informasi yang disajikan. Walaupun kita hidup dalam dunia yang terus berkenbang, akurasi tetap menjadi dasar dimana segala sesuatu di bangun di atasnya konteks, interprestasi, komentar, kritik, analisis, dan debat. Kebenaran, pada saatnya akan muncul dari forum tersebut.

2. Loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga masyarakat
Wartawan harus menyediakan berita tanpa rasa takut atau memihak. Mereka harus memelihara kesetiaan kepada warga masyarakat dan kepentingan publik yang lebih luas di atas yang lainnya. Prioritas komitmen kepada warga masyarakat ini adalah basis dari kepercayaan sebuah organisasi berita. Media harus dapat mengatakan dan menjamin kepada audiences-nya bahwa liputan itu tidak di arahkan demi kawan dan pemasang iklan. Kepercayaan inilah yang membangun audiences yang luas dan setia.

3. Inti jurnalisme adalah disiplin untuk melakukan verifikasi
Wartawan mengandalkan diri pada disiplin profesional untuk menverifikasikan informasi. Ketika konsep objektivitas semula disusun, tidak berarti bahwa wartawan itu terbebas dari prasangka. Yang obyektif adalah metodenya, tidak wartawannya. Mencari berbagai saksi, menyingkap mungkin sumber, atau bertanya berbagai pihak untuk komentar, semua mengisyaratkan adanya standar yang profesional. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme dengan bentuk-bentuk komunikasi yang lain, seperti propaganda, fiksi atau hiburan.

4. Para wartawan harus memiliki kebebasan dari sumber yang mereka liput
Kebebasan adalah syarat dasar dari jurnalisme. Ia menjadi sebuah landasan dari kepercayaan. Kebebasan jiwa dan pemikiran bukan hanya netralitas adalah prinsip yang harus di jaga oleh wartawan. Walaupun editorialis dan komentator tidak netral, namun sumber dari kredibilitas mereka adalah tetap, yaitu akurasi, kejujuran intelektual dan kemampuan untuk menyampaikan informasi, bukan kesetiaan pada kelompok atau hasil tertentu.

5. Wartawan harus mengemban tugas sebagai pemantau yang bebas terhadap kekuasaan
Prinsip ini menekankan pentingnya peran penjaga. Sebagai wartawan, kita wajib melindungi kebebasan peran jaga ini dengan tidak merendahkannya, misalnya dengan menggunakan secara sembarangan atau mengeksploitasinya untuk keuntungan komersial.

6. Jurnalisme harus menyediakan forum untuk kritik dan komentar publik
Diskusi publik ini bisa melayani masyarakat dengan baik jika mereka mendapatkan informasi berdasrkan fakta, dan bukan atas dasar prasangka atau dugaan-dugaan. Selain itu, berbagai pandangan dan kepentingan dalam masyarakat harus terwakili dengan baik. Akurasi dan kebenaran mengharuskan bahwa sebagai penyusun diskusi publik, kita tidak boleh mengabaikan titik-titik persamaan dasar dimana penanggulangan masalah di mungkinkan.

7. Jurnalisme harus berusaha membuat yang pentimg menjadi menarik dan relevan
Jurnalisme adalah bercerita dengan suatu tujuan—story telling with purpose. Karena itu, jurnalisme harus berbuat lebih dari sekadar mengumpulkan audiences atau membuat daftar penting. Demi mempertahankan hidupnya sendiri, jurnalisme harus mengimbangi antara apa yang menurut pengetahuan pembaca mereka inginkan, dengan apa yang mereka tidak bisa harapkan tetapi sesungguhnya mereka butuhkan. Pendeknya, jurnalisme harus berusaha membuat yang penting menjadi menarik dan relevan. Kualitasnya di ukur dari sejauh mana suatu karya melibatkan audiences dan mencerahkannya.


8. Wartawan harus menjaga agar berita itu proposional dan komprehensif
Prinsip disini adalah “ jurnalisme adalah suatu bentuk dari kartografi”. Ia menciptakan sebuah peta bagi warga masyarakat guna menentukan arah kehidupan. Menjaga berita agar tetap proposional dan tidak menghilangkan hal-hal yang penting adalah juga hal dasar dari kebenaran. Menngelembungkan peristiwa demi sensasi, mengabaikan sisi-sisi yang lain, stereotip atau bersikap negatif secara tidak imbang akan membuat peta menjadi kurang dapat di andalkan.

9. Wartawan itu memiliki kewajiban utama terhadap suara hatinya
Setiap wartawan harus memiliki rasa etik dan tanggung jawab—sebuah moral kompas (moral compass). Kita harus mau, bila rasa keadilan dan akurasi mewajibkan, untuk menyuarakan perbedaan dengan rekan-rekan kita, apakah itu di ruang atau di kantor eksekutif.

Selain itu, ada lima pegangan yaitu prinsip-prinsip intelektual dalam reportase yaitu:
1. Jangan menambahkan sesuatu yang tidak ada
2. Jangan menipu pembaca
3. Transparan sebisa mungkin tentang metode dan motif anda
4. Percaya pada keaslian reportase metode dan motif
5. Rendah hati.


B. KESIMPULAN
Buku The Elements of Journalism memberikan inspirasi bagi awak media massa untuk memberikan berita yang menarik dan relevan bagi khalayak. Dengan adanya petunjuk sembilan prinsip jurnalisme oleh Bill Kovach dan Tom Rosensteil dalam buku The Elements of Journalism media bisa memperbaiki kehidupan masyarakat, menciptakan bahasa dan pengetahuan umum, mengindentifikasikan apa yang di cita-citakan masyarakat, merumuskan siapa yang pantas di sebut pahlawana atau penjahat, dan mendorong orang-orang untuk lebih dari sekadar berpuas diri.
The Elements of Journalism juga menaruh pengetahuan pada awak media untuk bertanggung jawab dengan apa yang di embannya sebagai wartawan.




C. DAFTAR PUSTAKA

Ishwara, Luwi. 2005. Catatan-catatan Jurnalisme Dasar. Jakarta : Kompas

METRO TV SEBAGAI TELEVISI CNN INDONESIA

PENDAHULUAN

Secara teoritis dan praktis, komunikasi selalu mempunyai dampak, maka perlu ada masalah etik dalam hal ini. Kendati dimensi etik komunikasi terkesan rumit, karena terkait erat dengan filosofi hidup pribadi seseorang, tetap saja diperlukan semacam kode etik bagi seseorang dalam menjalankan profesinya sebagai “komunikator”.
Sedikitnya ada empat tujuan komunikasi. Pertama, penemuan diri (personal discovery) berkomunikasi dengan oprang lain untuk mengenal diri sendiri dan orang lain. Kedua, untuk membangun hubungan dengan pihak lain. Ketiga, untuk bermain, artinya, berkomunikasi untuk menghibur diri. Keempat, untuk meyakinkan pihak-pihak tertentu.
Pada tujuan keempat inilah peran media massa itu semakin diperlukan. Media massa memiliki kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku pembacanya, baik untuk memasarkan produk konsumtif, maupun mendorong masyarakat berpikir kreatif. Intinya mengubah “mind set” manusia. Konsekuensi logis peran dan kemampuannya itu adalah “baik atau buruk”. Dalam hal inilah peran Undang-undang dan Kode Etik Profesi itu diperlukan, setidaknya untuk menjaga tetap adanya keseimbangan.
Sebagai sarana komunikasi massa, melalui media massa berbagai pernyataan, informasi sampai kepada publik yang tersebar secara terbuka. Komunikasi melalui media massa mampu menjangkau sasaran yang luas, bervariasi dan nyaris tak terbatas. Oleh sebab itu, penggunaan komunikasi massa melalui media massa memberikan dampak yang luas, baik positif maupun negatif serta dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan dan kepentingan.
Sebagai lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik, media massa diharapkan mampu mengendalikan arus informasi, sehingga pemanfaatan komunikasi massa melalui berbagai media massa tidak menjadi salah arah dan salah kaprah, sehingga citra kewartawanan serta fungsi pers nasional ternodai.
Wartawan sebagai insane pers yang memiliki akuntabilitas dan mampu menampilkan kinerja professional merupakan ujung tombak dalam merealisasikan fungsi dan peranan bagi kehidupan bangsa, sebagaimana amanat UUD 1945. Lahirnya UU Republik Indonesia No. 40 Tahun 1999 tentang pers menunjukkan dukungan dan bukti semakin disadari pentingya peranan pers dalam kehidupan bermasyarakat, berbagsa dan bernegara yang demokratis.
Di sisi lain, dalam kenyataannya masih ditemui berbagai hal yang bersifat dilematis, seperti berbagai keluhan tentang pemberitaan yang tidak objektif, potensial menimbulkan keresahan, malahan ada perusahaan pers yang dibredel. Kasus-kasus tersebut dapat dijadikan sebagai suatu peringatan dan masukan bagi profesi kewartawanan dalam membenahi diri, meningkatkan profesionalitas anggota guna merealisasikan visi dan misi di masa dating.
Wujud tanggung jawab social sama saja dengan hak jawab, hak koreksi yang dibarengi permintaan maaf, seperti diatur dalam Undang-undang Pers. Cara itu tak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tapi juga bagi media massa sendiri agar tidak kebablasan dalam menikmati kebebasannya. Pers di era reformasi harus dimaknai dengan ketaatan pada koridor hokum.
Di sisi lain, peningkatan profesionalisme tidak terlepas dari tiga aspek pendukung, yaitu pengetahuan/wawasan, keterampilan dan kepribadian wartawan. Di samping pengetahuan atau wawasan yang diperoleh melalui jalur akademis, sejauh mana anggota profesi memahami dan menghayati Undang-undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik agar penghayatan tersebut terealisasi dalam kinerja kewartawanan yang akuntabilitas dan profesional?
Penghayatan UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik tersebut mutlak ditunjang oleh sikap dan kepribadian yang penuh tanggung jawab, komitmen yang tinggi dan mampu membuat keputusan yang bijaksana.
Wartawan adalah manusia biasa yang tak luput dari segala karakteristik kemanusiaan, baik ditinjau dari segi fisik maupun psikis. Sebagai manusia, ia juga memiliki berbagai kebutuhan yang perlu dipenuhi dan memiliki potensi yang perlu dikembangkan serta diaktualkan.
PEMBAHASAN
METRO TV SEBAGAI TELEVISI CNN INDONESIA
Jurnalistik televisi di Indonesia makin marak ketika sejumlah televisi baru muncul dalam 5-6 tahun terakhir, seperti trans TV, TV7, Lativi, dan Metro TV. Metro TV milik Surya Paloh, mengkhususkan diri sebagai stasiun berita pertama di Indonesia; stasiun televisi yang paling mengidentifikasikan diri sebagai CNN-nya Indonesia.
Kehadirannnya dapat dikatakan sebagai lompatan awal sejarah jurnalistik televisi. Berbeda dengan televisi-televisi lainnya yang rata-rata hanya memproduksi program berita (talk show, news magazine, documentary, maupun bulletins) rata-rata 3-5 jam per hari, untuk berbagai jenis karya jurnalistik tersebut, Metro TV memproduksi rata-rata 13 jam per hari. Semuanya diproduksi secara in house, artinya, jika televisi lainnnya hanya mengalokasikan 15-20% durasi berita per hari, Metro TV menyajikan 70% berita per hari.
Perkembangan program-program berita antarteve swasta tersebut dengan sendirinya menciptakan situasi yang sangat kompetitif. Dialektika kompetisi antarprogram berita telkevisi ini telah melahirkan beragam format, variasi content, maupun penggunaan teknologi mutakhir dalam duinia broacasting.
Penggunaan teknologi mutakhir ini misalnya ditandai dengan digitalisasi pengiriman berita melalui video News Satelite Gathering (SNG) yang lebih compact, video streaming, G Wave yang bisa dioperasikan langsung oleh seorang reporter, editing laptop yang bisa digunakan langsung oleh seorang reporter/cameramen/editor yang memiliki kemampuan multi skill yang belakangan ini diberi label video journalis (vj).
Penggunaan teknologi baru ini mengurangi peran microwave yang membutuhkan waktu dan tenaga manusia yang banyak untuk memungkinkan pengiriman gambar, karena pada saat yang bersamaan para provider satelit untuk up-link juga bertumbuh sangat cepat di berbagai kawasan.
Perkembangan teknologi pemberitaan ini juga ditandai dengan modernisasi news room system yang online, seperti ANN, I-News, ENPS, dan lain-lain. Kehadiran news room system yang baru ini menggusur Newstar yang kini tidak diproduksi lagi.
Pasal 11
Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Penafsiran
a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.
b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.
c. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki.
Dalam pasal ini metro TV memberikan kesempatan kepada pemirsanya untuk memilih berita yang mereka ingin ketahui kemudian di berikan sanggahan dan tanggapan. Dengan demikian pemirsa merasa puas karena bisa mengeluarkan uneg-unegnya jadi metro TV sudah melaksanakan pasal 11 UU No 40 tahun 1999 disela acara newsnya.
Kemudian terjadi ketidakseimbangan di Metro TV pada saat Munas Golkar. Metro TV secara garis besar hanya menampilkan profil Surya Paloh maka ini merupakan pelanggaran pasal 1 yaitu pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi, mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Disimpulkan bahwa metro TV hanya memihak pada Surya Paloh jadi informasi yang di salurkan ke pemirsa tidak baik secara universal hanya di tujukan kepada pendukung Surya Paloh.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.googlesearch.com//