Sukoharjo,11/12/09
Di tengah sulitnya lapangan pekerjaan di negara kita seharusnya dapat menggugah masyarakatnya untuk memiliki suatu hal dimana mereka harus bisa mengandalkan diri dan berpatisipasi membentuk lapangan pekerjaan sendiri salah satunya dengan kreatifitas.
Kekreatifitasan merupakan kemampuan yang dapat menghasilkan suatu karya dimana kita bisa menciptakan yang orang lain belum tentu bisa. Kemudian sebuah kekreatifitasan itu dapat menjadikan gudang uang untuk yang memilikinya dan juga dapat membantu menciptakan lapangan kerja. Sepertinya hal itu dapat kita utarakan untuk desa yang terletak di sebelah barat bengawan solo ini. Desa yang terletak di kecamatan Baki, kabupaten Sukoharjo ini bernama Desa Kembangan. Begitu masuk ke desa ini kita akan melewati gapura dengan plakat DESA KEMBANGAN, INDUSTRI GITAR.
Matahari kian menanjak setara menemani aku mencari desa industri ini. Panas seakan tidak dapat menunda jalannya aktifitasku. Kita tidak akan menyangka kalau ternyata desa yang jauh dari pusat kota ini merupakan sentra gitar. Letaknya hampir bisa dikatakan di tengah persawahan. Dalam perjalanan ke desa ini aku disapa berbagai pemandangan yang indah dimana kiri dan kanan jalan terdapat sawah yang luas. Petani-petani banyak yang sedang menandur padi. Hal itu vitamin baru yang membuat aku menjadi lebih semangat. Dan begitu sampai di desa ini aku pun berjalan menyusuri lorong-lorong yang terdapat di desa ini. Banyak hal yang membuat mataku terpana, gitar-gitar terpampang di depan rumah dengan jumlah yang banyak dan pemuda-pemudi yang ramai berkumpul di rumah-.rumah. Cukup melelahkan sebenarnya karena aku harus keliling-keliling mencari objek yang cocok.
“ngiiiiiiiinnnnnnngg,” bunyi alat pengetam kayu memekakkan telinga begitu ketika aku melewati rumah salah seorang warga. Kemudian “ srekkk,srekk,srekk” ada juga yang ngamplas kayu. Hal ini membuat aku menjadi penasaran dan tersenyum sendiri melihatnya. Ternyata bukan hanya pemuda saja, ada juga bapak-bapak yang sedang duduk santai namun dengan memegang kayu dan gergaji. Setidaknya hampir semua warga di desa ini memiliki pekerjaan yang mayoritas sebagai pengrajin. Data terakhir yang tercatat di kantor kelurahan setempat saat ini terdapat 137 orang perajin yang menekuni industri gitar. (blog Biduk Rokmadi)
Desa ini penduduknya mayoritas tidak melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi. Dari sekian banyak warganya hanya satu orang yang mencapai perguruan tinggi. Mengapa bisa demikian ? kemungkinan besar adalah peluang kerja yang sudah di depan mereka.
PENGRAJIN GITAR, BELUM TENTU BISA MAIN GITAR.
Sidal Hadi Wiyono (64) orang pertama yang memperkenalkan keterampilan membuat gitar di kampung tersebut pada tahun 1961. Awalnya, saat masih bersekolah di tingkat SMP, Hadi muda bekerja di pabrik gitar di kawasan Timuran, Solo selama empat tahun. Karena modal milik juragannya makin hari semakin menyusut, Hadi memutuskan untuk pulang kampung dan memulai usahanya sendiri. (blog Biduk Rokmadi)
Tak terasa sudah hampir setengah jam aku memutari desa ini. Aku pun berhenti di rumah berwarna hijau tua yang letaknya di paling pojok desa. Ternyata desa ini merupakan desa industri gitar yang besar di sukoharjo. Akupun menyegerakan diri untuk mengerti lebih dalam tentang keahlian mereka sehingga hampir semuanya bekerja di pekerjaan yang sama.
Entah mengapa aku tertarik pada rumah yang paling pojok ini, apa mungkin karna rumah terakhir. Entah juga karna warna kesukaanku hijau jadi aku harus menghentikan langkahku di depan rumah yang ku bilang cukup besar karna halamannya yang luas. Entah juga karna gitar yang banyak di jemur di depan rumah.
Begitu aku datang, mata mereka tertuju padaku. Aku segera menyalami mereka dan mencari pemilik rumah hijau tersebut dan aku pun di persilahkan masuk. Ternyata pemilik rumah yang terletak di RT.02/RW.11 Dukuh Wetan, Mandasan, Baki, Sukoharjo ini ramah sekali. Lelaki yang berusia 36 tahun ini bernama Yatno. Namun, karena saking banyaknya yang bernama Yatno di Dukuh Wetan akhirnya dia memberi julukan tersendiri agar dia lebih di kenal orang dengan nama Suyut. Mas Suyut begitu dia di panggil. Dia membuat gitar dari usia 17 tahun. Mas Suyut belajar membuat gitar dari pengalamannya bekerja di tempat pembuatan gitar di Jakarta. Kemudian dia pulang kekampung dan membuat usaha sendiri. Usaha yang di buatnya dari tahun 1992 ini sudah menciptakan ribuan gitar.
Disela-sela pembicaraan tentang gitar aku pun penasaran.” Mas Suyut kan pandai merakit gitar berarti ahli juga donk bermain gitar,” tanyaku. Kemudian dengan tertawa dia menjawab “ Jujur saja saya itu tidak bisa main gitar,”. Aku pun tidak percaya bagaimana bisa seorang pengrajin gitar yang sudah berpengalaman tidak bisa bermain gitar. Kemudian aku bertanya kembali “ Trus bagaimana caranya agar tahu gitar itu bagus bunyinya?”. “ Yang penting tidak fals saja itu sudah bagus,” jawabnya sambil tertawa lagi. Dia pun bercerita tentang usahanya itu selama dia membikin usaha ini belum pernah ada gitar yang dikembalikan. Prinsip dia cukup jujur kepada konsumen kalau bagus katakan bagus dan kalau jelek katakan jelek. Ternyata suatu kejujuran mempengaruhi sebuah usaha sehingga konsumen pun menjadi percaya dengan kita.
PRODUKSI YANG SANGAT FANTASTIK.
Begitu banyak gitar yang di jemur dan terpampang di teras-teras rumah. “Sebenarnya untuk memproduksi satu buah gitar butuh waktu berapa lama?” tanyaku. Mas Suyut pun menjawab “ Aduh, saya tidak dapat memperhitungkan itu kalau satu buah tapi biasanya seminggu saya produksi 60 buah gitar,”. Hal yang sangat fantastik, bukan? berarti sehari beliau bisa membuat 10 buah gitar. Kemudian aku melihat banyak pemuda-pemuda, ”tapi kan karyawannya banyak mas,”kataku. Mas Suyut pun menjawab ” Itu cuma anak-anak yang mau servis gitarnya, karyawan saya cuma 2 orang kok,”.
Ternyata selain membuat gitar para pengrajin juga menerima servis gitar. Biayanya pun beragam untuk gitar hasil produksi dari pengrajin itu sendiri mereka hanya membayar sekitar Rp. 25.000,- saja. Tetapi jika gitar itu bukan buatan dari pengrajin tersebut maka mereka harus membayar sekitar Rp.75.000,- hingga Rp. 100.000,-.
Untuk membayar karyawannya, pengrajin harus mengeluarkan kocek sebesar Rp. 20.000,-/hari. Sedangkan biaya produksinya dikatakan lebih dari setengah penghasilan pengrajin selama sebulan. Omset perbulan pengrajin dapat mengumpulkan sebesar kurang lebih Rp. 20.000.000,- dalam jumlah kotor.
Untuk memproduksi gitar bahan yang dibutuhkan adalah kayu. Para pengrajin biasanya menggunakan kayu waru dan mahoni. Untuk gitar yang bagus mereka menggunakan kayu mahoni untuk membuat gitar. Pengrajin biasanya mendapatkan kayu dari Bali dan Kalimantan. Selain itu untuk bahan-bahan seperti senar, spul gitar, spul electrik para pengrajin biasanya memboking atau dengan membeli di toko alat musik. Kemudian untuk alat-alatnya yang dibutuhkan adalah Compressor, Gergaji, Pres, Cetakan (Mal) atau triplek, dan cat mobil.
Sedangkan untuk tahap pembuatannya adalah di mulai dari memotong kayunya, kemudian di amplas agar kayu tidak kasar lagi, didempul dimana pori-pori kayu ditutup, kemudian di cetak melaului sanding, kemudian melamit yaitu di cat dengan cat dasar, lalu di cat lagi biasanya menggunakan cat mobil, terakhir di pernis atau dibuat mengkilat.
PROSES PEMBUATAN GITAR.
Membentuk gitar Mengamplas gitar
(/kulinerkita.multiply.com)
Proses pengecatan (kulinerkita.multiply.com) Siap di distribusikan
PERSAINGAN DI DEPAN MATA.
Bagaimana tidak, hampir semua penduduknya merupakan pengrajin gitar dan secara otomatis persaingan pun di depan mata. Tetapi hal ini disikapi warga dengan biasa saja ” Yang penting berani bersaing dan berani menunjukkan kualitas produksi masing-masing,” begitu kata salah seorang karyawan di tempat kerja Mas Suyut. Dan jika ada konsumen yang datang dan kurang puas dengan gitar mereka, mereka pun siap mengantarkan konsumen ketempat saingan mereka dengan senang hati. Jadi, walaupun satu sama lain adalah saingan namun jiwa kebersamaannya masih tetap terjaga dengan baik.
GITAR DESA KEMBANGAN, SIAP DI TERIMA PASAR NASIONAL MAUPUN INTERNASIONAL.
Ditengah perkembangan jaman yang semakin maju kita harus pintar mengambil alih sebuah usaha apalagi di jaman sekarang. Musik tengah berada diurutan atas setidaknya seniman-seniman harus memiliki ide-ide agar dapat masuk dalam pasar musik. Termasuk hal nya apa yang dilakukan pengrajin gitar harus memiliki inovasi-inovasi teranyar.
Tetapi inovasi itu juga tidak lahir dari pengrajin saja namun juga dari permintaan pasar. Biasanya pasar membawa gambar atau model sendiri. Sebagian besar pengrajin biasanya juga menerima pesanan dari seniman-seniman campursari dan keroncong. Yang mereka buat contohnya Celo, Biola, Cak, dan Cuk.
Kalau soal merk pengrajin di desa Kembangan ini tidak berani memberi merk-merk yang ternama. Mereka hanya memberi merk sesuai produksi mereka seperti contoh gitar produksi Mas Suyut yang bermerk “ROCK”. Alasan mereka tidak berani menaruh merk-merk terkenal adalah karena hal tersebut sangat berisiko fatal sebab termasuk dalam pelanggaran hak cipta yang hukumannya tidak main-main.
Pendistribusiannya biasanya hanya di seputaran Indonesia saja seperti Yogyakarta, Surakarta, Bali, Surabaya, Semarang, Jakarta, dan kota-kota lainnya. Beberapa pengrajin belum bisa mendistribusikan ke luar negeri karena faktor modal yang belum mencukupi. Biasanya mereka mengekspor ke negara tetangga misalnya Malaysia dan Singapura. Dalam pendistribusiannya desa ini bersifat individu saja. Pengrajin biasanya mengakali distribusi agar mendapat untung lebih banyak dengan cara jika toko atau pemesan membutuhkan barang sekitar 100 buah gitar, mereka melebihkan dengan 50 gitar lagi. Hal itu dilakukan untuk melancarkan usaha mereka. Toko hanya membayar yang 100 buah mereka pesan namun yang 50 sebagai cadangan itu dianggap belum dibayar. Istilah pengrajin menaruh barang di toko tersebut. Pemberian harga pun sudah berbeda antara yang 100 buah dan 50 buah dari pengrajin tersebut.
Dulunya pengrajin menggunakan koperasi daerah untuk pendistribusian. Namun, karena banyak gitar yang di pulangkan ke pengrajin akhirnya mereka berinisiatif untuk melakukan pemasaran secara individu. Dan akibat dari hal tersebut koperasi di desa Kembangan di bubarkan.
KRIDA REMAJA
KRIDAREMAJA begitu karang taruna desa Kembangan di namakan. Mereka pemuda-pemudi yang kreatif. Secara tidak langsung mereka mulai melanjutkan usaha-usaha yang telah ada. Seperti bekerja diperakitan gitar saja mereka sudah dapat menabung ilmu agar bisa membuat gitar dan jika mampu mereka bisa memproduksikan gitar itu sendiri.
GITAR DI PASAR LEGI
Apa yang terjadi jika ternyata gitar yang di buat tidak laku di pasaran? Begitu dalam benakku. Gitar-gitar akan di kembalikan ke pengrajin kemudian di servis kembali baru kemudian dapat di pasarkan kembali. Namun, ada juga toko yang tidak mengembalikan tetapi menaruhnya di pasar-pasar seperti contohnya pasar legi. Jadi sebenarnya gitar yang ada di pasar legi bisa di katakan adalah tangan kedua dari pendistribusian gitar tersebut. Harganya pun menjadi lebih miring dari harga aslinya.
Untuk sementara aku menghentikan perbincangan karena bapak-bapak di industri pengrajin gitar itu. Karena hari ini hari Jum’at mereka harus berangkat ke masjid menunaikan ibadah sholat jum’at.
Selama itu aku melihat hasil-hasil karya mereka. Kemudian disebuah ruangan ada seorang bapak yang sedang memasang senar di gitar-gitar yang siap di distribusikan. ”ini udah siap untuk dikirim ya mas?” tanyaku. ” iya, ini mau di kirim ke semarang,” jawab bapak itu kemudian melanjutkan pekerjaannya memberi bungkus pada gitar-gitar yang sudah siap.
Kreatifitas warga-warga di desa Kembangan ini dapat memberikan inspirasi untuk insan bangsa agar bisa menggunakan kemampuan atau potensi diri sebagai hal yang dapat di manfaatkan juga dapat membentuk jati diri yang mandiri dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
Minggu, 20 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar